Skip to content

Dwi Aris Subakti

Jenis Layanan:
, , , ,

Dwi Aris Subakti

“To say don’t know is beginning of knowing tagline”

Keterampilan Bahasa Inggris:

Listening:

Sedang

Reading:

Sedang

Speaking:

Sedang

Writing:

Sedang

Aris, demikian biasa disapa, adalah Sarjana Ilmu Sejarah dan Master Ilmu Komunikasi dengan spesialisasi Media dan Komunikasi Politik. Ia memiliki ketertarikan dalam dunia fotografi dan menulis, serta menyukai hal baru. Hal ini karena pengalamannya sebagai jurnalis dan memimpin institusi pers kampus.

Aris memulai karir di dunia LSM saat bergabung di Institute for Media and Social Studies (IMSS) pada tahun 2006 hingga 2008 sebagai peneliti dan koordinator program. Selanjutnya ia bergabung dengan SatuDunia (OneWorld Indonesia) pada tahun 2008-2012 sebagai Knowledge Sharing Officer dan Capacity Building Officer. Sempat juga Aris menjadi Regional Technical Officer untuk proyek Scalling up for Most at Risk Population, yaitu sebuah proyek yang didanai USAID untuk penguatan kapasitas organisasi dalam mendukung program HIV pada populasi kunci sejak 2012 hingga 2015 di bawah manajement Research Triangle Institute. Masih dengan isu HIV/AIDS. Aris mendapat kepercayaan sebagai Regional Technical Officer untuk program Delivering Resources for AIDS Programming yang merupakan project HIV/AIDS dengan pendanaan USAID, pada tahun 2015 hingga 2016 di bawah manajemen PACT Inc.

Sejak 2016 hingga kini, bersama Penabulu, Aris menangani banyak proyek KOMPAK-DFAT, MCAI, Indonesia Business Council for Sustainable Development, SNV, PT. JAPFA Comfeed, IAC, JIP. Saat ini menjadi MEL Manager di PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI untuk Program Eliminasi TB yang didanai GF.

Ketelatenannya dalam menulis, menjadikannya kaya pengalaman dalam berkutat dengan dokumen organisasi. Aris adalah salah satu personel penting dalam pengembangan protokol CBMF untuk IAC; menyusun laporan advokasi anggaran untuk JIP; menyusun riset “Peluang Pendanaan CSR untuk CSO” yang didukung oleh SNV; serta menyusun Policy Brief KOMPAK tentang Peningkatan Kapasitas Keuangan bagi Frontline Services.

Tidak banyak aktivis LSM yang sangat concern pada menulis, riset sosial, pengelolaan pengetahuan. Aris lah salah satunya.

Afiliasi Organisasi: Yayasan Penabulu

Pada awalnya (tahun 2002 – 2011), Yayasan Penabulu adalah lembaga konsultan manajemen keuangan untuk organisasi nirlaba. Kemudian, seiring dengan perjalanan waktu, Penabulu telah memperluas area layanan pengembangan kapasitasnya ke aspek lain dari manajemen organisasi. Sejak tahun 2019 Penabulu telah mengembangkan layanan untuk penelitian sebagai dasar advokasi kebijakan, pengelolaan hibah (intermediary) dan menjadi bagian dari jaringan tanggap bencana.

Untuk menguatkan keberadaan dan perannya dalam kancah OMS, Penabulu memiliki:

Visi: Masyarakat sipil Indonesia yang berdaya.

Misi: Mendorong keberdayaan dan keberlanjutan posisi dan peran organisasi masyarakat sipil di Indonesia melalui upaya penguatan kapasitas dan kapabilitas organisasi; mobilisasi, pengelolaan dan penyaluran sumber daya; pengembangan kemitraan setara antar sektor pembangunan serta penggalangan partisipasi dan keterlibatan publik seluas-luasnya.

Saat ini, Penabulu memiliki 12 cabang di seluruh Indonesia dengan sekitar 120 orang yang terlibat dalam pelaksanaan program/proyek.