Skip to content

Akhmad Arief Fahmi

Jenis Layanan:
, ,

Akhmad Arief Fahmi

“Tersesat adalah jika anda tidak sadar ada di posisi mana dan tidak tahu mau kemana. Jika tidak lagi bisa menjadikan kata dan nada menjadi energimu maka pertanyakanlah kemanusianmu”

Keterampilan Bahasa Inggris:

Listening:

Sedang

Reading:

Sedang

Speaking:

Sedang

Writing:

Sedang

Akhmad Arief Fahmi, akrab disapa Arief, mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Arief tertarik pada banyak hal seperti sejarah, politik ekonomi, lingkungan hidup, filsafat, agama, walau tidak pernah mendalami salah satu diantaranya. Ia juga gandrung pada transformasi sosial dan narasi besar tentang hal-hal tersebut, tetapi selalu ingin membuktikan dan bergerak pada tingkatan yang dapat dijangkau oleh aksi nyata.

Arief adalah salah satu yang menginisiasi terbentuknya Lembaga Kajian, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM) Relung pada tahun 2000-an. Di sana, Arief menjadi Direktur untuk periode 2004-2017 dan masih setia mengabdi hingga saat ini. Ia pernah menjadi wartawan Bulletin AKAR yang diterbitkan Yayasan Arupa di tahun 1999-2001. Pasca bencana alam gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006, Arief menjadi Tenaga Ahli Kehutanan FAO Indonesia. Dan sejak 2018 hingga kini Arief merupakan salah satu anggota Dewan Pengawas Yayasan SWARAOWA dan Yayasan Kutilang Indonesia.

Arief memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti di Pusat Studi dan Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR) UGM pada tahun 2006-2017, di Small-Medium Enterprises Development Center UGM pada 2009-2014, dan pada rentang 2015-2017 di  Pusat Kajian Pembangunan Peternakan UGM. Lebih dari 20 tahun bergelut dalam advokasi lingkungan hidup, ada banyak karya yang dihasilkan Akhmad Arief Fahmi.

Tahun 2003-2005 bertanggung jawab pada peningkatan kapasitas agroforestry Petani Hutan Rakyat di Pegunungan Menoreh bersama LKPPM Relung; tahun 2004-2014 terlibat dalam program Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Jateng dan DI Yogyakarta dalam kerjasama LKPPM Relung dengan Toyota Eco-grant, dimana skema kerjasama tersebut diteruskan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DI Yogyakarta, hasilnya terjadi perubahan tutupan lahan pesisir Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, serta berkembangnya obyek wisata alam di sepanjang pesisir; turut menginisiasi pengembangan biogas pada peternak sapi perah di komplek Merapi-Merbabu bersama Yayasan Infront tahun 2008-2010; mendampingi pelaku wisata di 6 (enam) desa di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan tahun 2019-sekarang. Sebagai peneliti di beberapa Pusat Studi menghasilkan berbagai dokumen yang cukup banyak di bidang perencanaan pembangunan regional maupun pembangunan sektoral.

Arief berharap memiliki model komunitas, khususnya yang terkoneksi dengan pengelolaan kawasan hutan yang dapat menjadi model Pembangunan Berkelanjutan, baik secara ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan hidup.

Afiliasi Organisasi: Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia (Relung Indonesia)

Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia (Relung Indonesia) didirikan di Jakarta sejak tahun 2018 dan dikukuhkan melalui SK Menteri Hukum dan HAM RI No.AHU-0011620.AH.01.04 Tahun 2018. Sejak berdirinya, Yayasan Relung Indonesia telah meletakkan visinya pada lingkungan hidup, pengelolaan sumberdaya alam dan ekonomi pedesaan Indonesia. Relung Indonesia mendedikasikan diri untuk menggugah kesadaran dan kepedulian berbagai pihak terhadap keberlangsungan sistem-sistem alamiah sebagai penopang kehidupan manusia di bumi.

Sesuai visinya, Relung Indonesia berupaya mengembangkan hubungan antara manusia dan alam yang harmonis dan dinamis. Relung Indonesia mengusung misi mendorong pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan tata kelola desa, dan pengembangan kolaborasi paran pihak dalam pengelolaan sumberdaya alam melalui mobilisasi pengetahuan yang mendukung keberlanjutan (Green Knowledge).