Skip to content

Khamid Anik Khamim Tohari

Jenis Layanan:
, , , , ,

Khamid Anik Khamim Tohari

“Pekerja cerdas, penyuka detail, pembelajar.”
Keahlian Keorganisasian:
Kampanye dan Advokasi, Kemitraan dan Pelibatan Para Pihak, Komunikasi dan Media Sosial, Pengelolaan Pengetahuan, Perencanaan Strategis, Siklus Pengelolaan Proyek, Studi dan Riset, Tata Kelola Organisasi, Teknologi Informasi dan Digital

Keterampilan Bahasa Inggris:

Listening:

Sedang

Reading:

Sedang

Speaking:

Tinggi

Writing:

Tinggi

Anick HT adalah alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif di beberapa organisasi gerakan pemikiran dan aksi. Ia juga merupakan alumni School of Peace (2007) di Bangalore India, program 3,5 bulan untuk belajar community development, conflict transformation, interfaith, dan tools for transformation. Ia juga alumni International Visitor Leadership Program (2009), program 1 bulan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika untuk secara khusus belajar tentang minority rights di enam negara bagian Amerika. Sejak 2001, ia aktif di berbagai lembaga, terutama terkait isu interfaith, kebebasan beragama, dan advokasi kelompok minoritas.  Antara lain ia menjadi Direktur Eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (2008) sekaligus Koordinator AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan), aliansi dari sekitar 30 lembaga yang bekerja untuk melakukan advokasi kasus-kasus diskriminasi kelompok minoritas. 

Pada 2015 ia turut menggagas Peace Train Indonesia, gerakan perjalanan interfaith melalui kereta api ke berbagai kota. Ia juga koordinator Komunitas Bela Indonesia (2018) yang juga pernah bekerja untuk Wahid Foundation (2019), terutama dalam advokasi isu ekstremisme. Saat ini ia bekerja sebagai Direktur Eksekutif Konsil LSM Indonesia (2022), perkumpulan dari 113 OMS yang secara khusus concern pada akuntabilitas OMS dan advokasi kebijakan terkait penguatan dan keberlanjutan OMS.

Dalam konteks advokasi lapangan, ia berpengalaman melakukan pendampingan terhadap kelompok minoritas agama, dan pendampingan kasus penutupan gereja, persekusi terhadap kelompok minoritas, dan sejenisnya. Dalam hal advokasi kebijakan, ia juga terlibat dalam berbagai aktivitas advokasi dalam rangka mendorong lahirnya kebijakan baru maupun kritik terhadap kebijakan yang ada. Demikian juga dalam soal kampanye. Ia mendirikan demokrasi.id yang dikelola oleh komunitas yang concern terhadap produksi konten positif dalam isu demokrasi, HAM, dan lingkungan. Sejak 2022, melalui Konsil LSM Indonesia, ia juga melakukan berbagai kegiatan pendampingan untuk OMS di berbagai kota, advokasi kebijakan lokal-nasional, serta berbagai aktivitas capacity building untuk OMS terkait tata kelola organisasi, advokasi, dan akuntabilitas. Pengalamannya di bidang riset juga cukup panjang, terutama riset-riset yang berorientasi kebijakan atau action research.

Di luar kerja-kerja advokasi dan pendampingan, ia merupakan penulis kolom untuk beberapa media, penulis buku, serta editor dari beberapa buku dari beragam tema. Ia juga menaruh perhatian terhadap penggunaan media sosial dan media digital untuk kampanye dan advokasi.
Afiliasi Organisasi: Konsil LSM Indonesia

Konsil LSM Indonesia/Dewan LSM Indonesia adalah organisasi yang didirikan oleh 93 LSM dari 13 provinsi di Indonesia. Konsil LSM Indonesia didirikan pada 28 Juli 2010 ketika Kongres Nasional LSM Indonesia pertama digelar di Jakarta pada 27-28 Juli 2010.

Saat ini anggota Konsil telah berkembang menjadi 113 anggota yang tersebar di 19 provinsi di Indonesia dan bergerak pada berbagai fokus isu.

Visi
Membangun kehidupan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sehat dan kuat, yakni LSM yang hidup di dalam lingkungan politik dan hukum yang bebas dan demokratis berdasarkan hukum dan mampu mempraktikkan prinsip‐prinsip dan mekanisme akuntabilitas; demi meningkatkan kepercayaan dan dukungan publik terhadap gerakan organisasi masyarakat sipil (OMS).
Misi
Memperkuat kesadaran dan kapasitas LSM untuk mempraktikkan prinsip tata kelola yang baik dan mekanisme akuntabilitas;
Mendorong terwujudnya lingkungan politik, hukum, dan tata kelola pemerintahan yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya LSM yang sehat, akuntabel dan sejalan dengan prinsip-prinsip Istanbul tentang efektivitas pengembangan OMS;
Mendorong terjadinya perubahan sosial untuk mewujudkan masyarakat sipil yang sehat;
Menjadikan Konsil LSM Indonesia sebagai ruang belajar bersama.