F. Felicitas Sri Purwani

Sri Purwani berkecimpung di lemabag swadaya masyarakat sejak tahun 1998. Ani, demikian biasa disapa, mempunyai banyak pengalaman dalam penguatan kapasitas, pendampingan, fasilitasi, dan konsultansi bagi organisasi masyarakat sipil, kelompok masyarakat, serta institusi dan lembaga pemerintahan. Mempunyai latar belakang sebagai aktivis pergerakan sosial dengan pendidikan filsafat dan ilmu pemerintahan, memberi dampak komprehensif  dalam setiap proses kerja-kerja pendampingan, konsultasi, penyusunan modul, maupun dokumentasi pembelajaran program.

Secara kelembagaan, Ani bergabung dengan Yayasan SATUNAMA pada 2004 hingga 2014 dan terlibat di beberapa program pemberdayaan masyarakat dan penguatan nilai kewargaan. Dalam waktu bersamaan, pada 2011-2013 Ani juga menjadi konsultan untuk Bank Dunia pada program Good Governance Program Java Recovery Fund di area DIY dan Jawa Tengah. Pada 2014 hingga kini, Ani bergabung bersama Yayasan Penabulu dengan beberapa program kerja yang bersinggungan dengan pemberdayaan desa dan isu GESI.

Selama 10 tahun bekerja di Yayasan SATUNAMA dengan fokus penguatan kapasitas pemerintah desa dan kabupaten, kelompok masyarakat  (perempuan dan pemuda), sektor ekonomi desa, advokasi kebijakan, serta Isu pluralisme dan gender.  Selama di Yayasan SATUNAMA, Ani pernah menyusun “Modul Dokumentasi Pembelajaran Program” bersama  Sungkonghoe University of Republic Korea dan “Modul Training of Facilitator bagi CSR Officer” untuk DSN Palm Oil. 

Sebagai salah satu konsultan program Bank Dunia, Ani terlibat dengan kerja-kerja program pemulihan pasca bencana erupsi Merapi di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Ia pun turut dalam beberapa survey yang diselenggarakan Lembaga Survey Meter pada medio 2017-2018. 

Bersama Yayasan Penabulu, Ani memiliki peran penting dalam kerja-kerja advokasi kebijakan dan hak anak, penguatan tata kelola pemerintahan desa,  penyusunan dokumentasi pembelajaran, dan penyusunan “Modul Pelatihan Pelibatan Anak dalam Musrenbangdes” dan “Modul Traning of Facilitator untuk Pendamping Anak”. Saat ini, Ani menjadi penanggungjawab Yayasan Penabulu Cabang Yogyakarta.

Untuk menjadi sebuah organisasi masyarakat sipil, kelompok masyarakat, maupun desa yang berdaya diperlukan rantai keterlibatan secara integratif dengan proses dan gerak bersama. Gerakan bersama yang dikelola secara sistemik melalui penguatan jaringan dan pengelolaan pengetahuan akan menghasilkan perubahan yang berkesinambungan melalui transformasi pembelajaran dan pertemanan lintas generasi.

Adam Kurniawan

Adam Kurniawan, memiliki kalimat sakti “Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya”. Aktif di WALHI sejak masih duduk di bangku kuliah hingga kini. Pada 2010 mendirikan Balang Institute di kampung halaman. Bersama Balang Institute Indonesia, Adam dan kawan-kawan mendorong insiatif masyarakat dalam mengakses dan mengelola sumber daya alam, serta memobilisasi sumberdaya untuk mendukung inisiatif yang tumbuh dari pengorganisasian masyarakat. Baginya, terus bergerak dan saling memperkuat adalah jalan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Semenjak aktif di Walhi Sulawesi Selatan, Adam menduduki posisi sebagai Kepala Departemen Pengorganisasian Rakyat pada tahun 2006-2009. Kala itu ia mendampingi petani Takalar yang sedang berkontra dengan PTPN XIV dan mendampingi kaum miskin kota di Makassar kala berurusan dengan mafia tanah. Tahun 2009-2010 Adam menjadi fasilitator Access-Ausaid dalam kerja-kerja penguatan kelembagaan 6 (enam) BUMDes di Kabupaten Bantaeng.

Pada 2010, Adam turut mendirikan Balang Institute dan ditunjuk menjadi Direktur hingga 2014. Sempat bekerja untuk ICRAF pada 2014-2016 dalam proyek AGFOR Sulawesi yang mendorong lahirnya Regulasi Imbal Jasa Lingkungan di Bantaeng dan Bulukumba. Tahun 2017-2020 Adam kembali ke Balang Institute dan mengembangkan beragam inovasi berorientasi pada penggunaan lahan dan pemenuhan kebutuhan dasar untuk mengakses sumber pendanaan alternatif. Kini, Adam mendapat mandat untuk menduduki posisi di Dewan Eksekutif Nasional Walhi sejak tahun 2021.

Sejak 2007, banyak hal yang sudah dilakukan Adam, terutama di bidang advokasi lingkungan. Pada 2007-2009 Adam mendampingi pembentukan dan penguatan Serikat Tani Polombangkeng dan Persatuan Rakyat Kassi-kassi (warga pemukiman kumuh di Makassar); ia juga memfasilitasi penguatan kelembagaan 6 (enam) BUMDes di Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng pada 2009-2010; pada 2010-2014 Adam mendampingi penguatan kelembagaan Pengelola Hutan Desa Labbo, Desa Pattaneteang, dan Desa Campaga hingga mampu menyusun Rencana Kelola Hutan Desa; menjadi Konsultan dalam Project AGFOR Sulawesi yang menghasilkan Peraturan Bupati Bantaeng tentang Jasa Lingkungan di Bantaeng dan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba tentang Masyarakat Adat Kajang di Bulukumba dilakukannya pada rentang waktu 2014-2016; pada tahun 2017-2019 Adam mendamping penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha Koperasi Akar Tani hingga dapat mengakses pinajamn modal dari BLU KLHK untuk menjalankan usaha produksi kopi.

Rado Puji Santoso

Rado, lahir dan dibesarkan di lingkungan desa yang memiliki potensi besar di pertanian. Hal inilah yang melatarbelakanginya untuk belajar dan mendalami dunia pertanian di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008.

Semenjak lulus perguruan tinggi, Rado terlibat aktif dalam beberapa organisasi untuk mengasah dan mengembangkan dirinya, diantaranya di Klinik Tanaman IPB sebagai Asisten Riset Laboratorium dan Lapangan pada 2013 – 2014; pada 2014 menjadi anggota riset aksi di Gerakan Petani Nusantara; dan sejak tahun 2014 hingga kini Rado bergabung di Yayasan Penabulu dalam beragam riset dan proyek berbasis konservasi lingkungan hidup.

Dalam pengalaman bersama beberapa organisasi, Rado juga terlibat di beberapa kerja konsultasi dan penyusunan kajian antara lain Kajian Rantai Nilai Rencana Bisnis Lima Komoditas (2015) dengan dukungan ICCO; Kajian Rantai Nilai dan Rencana Bisnis Koperasi Kakao Lhok Sukon dan Kandang Belajar Sapi Rakyat Bojonegoro (2016) dengan dukungan Exxon Mobile; Kajian Rantai Nilai dan Rencana Bisnis Koperasi Kakao di Mahakam Ulu (2016) dengan dukungan WWF; Kajian Rantai Nilai dan Rencana Bisnis Mbilim Kayam di Sorong (2016) dengan dukungan CI Indonesia; Kajian Community Livelohood Apparaisal and Product Scanning (CLAPS) HHBK di Berau (2017) dalam Proyek TFCA Kalimantan; Modul dan Hasil Rapid Assessment Market Paska Bencana Gempa dan Tsunami Palu (2019) dengan dukungan ICCO dan Kerk in Actie; Desk Research CSPO Indonesia (2019) dan Guideline Investment Opportunities of The Private Sector on The Sustainable Food System in Indonesia (2019) dengan dukungan IBCSD; Assessment of Agriculture Livelihood in Southwest Sumba (2020) dengan dukungan WLF; SOP Penanganan Pasca Panen Lada, Pala, dan Kayu Manis bersama Ditjenbun Kementan (2020) dengan dukungan ICCO; dan Kajian Potensi dan Kelayakan Usaha Perkebunan dan Perikanan di Pulau Maluku dan Papua (2021) dengan dukungan EcoNusa.

Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan tetap menjadi hal yang menarik bagi Rado dan akan terus digali. Ia ingin menemukan dan membangun komunitas yang mampu mengelola sumber daya alam yang lebih berkelanjutan dan paling ideal.

Frans Toegimin

Frans Toegimin, berbakti pada negeri sejak tahun 1975. Bukan waktu yang singkat, namun bekerja dalam pelayanan melalui Lembaga Swadaya Masyarakat sudah menjadi pilihan hidup. Saat bekerja di Lampung (1975 – 1980) banyak tawaran untuk menjadi aparatur negara yang kala itu jadi idaman banyak orang, tapi Frans tegas menolak dan menyebut jiwanya tak cocok berada disana.

Lebih dari 45 tahun Frans Toegimin berkecimpung di LSM. Memulai perjalanan menjadi pegiat LSM pada tahun 1975 di Lembaga Karya Bhakti dan Lembaga Dana Atmaja hingga tahun 1980. Kemudian tahun 1980 hingga 1985  dipercaya sebagai Pembina Wilayah Madiun oleh Bina Swadaya. Selepas itu, bergabung di Bank Dunia sebagai Konsultan Program Sanitasi Perkotaan selama 12 tahun, sejak 1985 hingga 1997. Frans bergabung dengan Yayasan SATUNAMA pada 1997 sebagai Staf Senior hingga pensiun tahun 2011 sebagai Direktur Eksekutif.

Walaupun sudah pensiun dari Yayasan SATUNAMA, dalam beberapa waktu Frans masih aktif dalam struktur kepengurusan. Terakhir, Frans dipercaya sebagai Kepala Departemen Rumah Pembelajaraan Kesehatan Jiwa milik Yayasan SATUNAMA. Kini, Frans masih aktif sebagai Konsultan Lepas untuk Monitoring dan Evaluasi.

Hampir 50 tahun berkecimpung sebagai pegiat LSM, menjadikan Frans Toegimin sangat kaya pengalaman. Pada 1987, sebagai Koordinator Program Pengembangan LSM di tujuh provinsi, Frans yang pertama kali menghasilkan konsep pengembangan LSM.

Ketika bersama Bank Dunia, pada 1992 hingga 1996 ia mengembangkan “Kampung Improvement Project” di Jakarta yang menghasilkan konsep pengembangan kampung di perkotaan. Dan selama 20 tahun sejak 1999, Frans banyak melakukan fasilitasi perencanaan strategis untuk LSM dan lembaga pemerintahan. Sebagai salah satu ahli monitoring dan evaluasi, Frans banyak melakukan evaluasi organisasi dan evaluasi proyek sejak 1998 hingga kini.

Menurutnya, peran dan fungsi OMS (termasuk LSM) di Indonesia sangat penting. Untuk itu program penguatan OMS sangat penting agar selalu dapat  berperan secara akuntabel sebagai salah satu pilar penting dalam suatu negara.

Adi Nugroho

Adi Nugroho, berlatar belakang akademik Teknik Lingkungan dan Studi Pembangunan dengan pengalaman yang sangat panjang di bidang lingkungan, penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Adi melakukan beberapa penelitian tentang lingkungan, pengelolaan hutan, adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metodologi partisipatif seperti investigasi, penelitian tindakan, penelitian kebijakan, dan etnografi. Selain penelitian, Adi sangat lihai dalam memfasilitasi pelatihan, diskusi kelompok terfokus, dan lokakarya di tingkat masyarakat, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat. Keterampilan dalam hal penelitian dan fasilitasi tersebut mendukung kemampuannya melakukan evaluasi di beberapa LSM.

Sejak 1995, Adi mulai aktif di berbagai jaringan baik lokal, nasional maupun internasional. 9 tahun di Yayasan Gita Pertiwi (1995-2004) menjadi awalannya berkiprah di beberapa LSM setelahnya. Tahun 2002-2004 Adi dipercaya sebagai Regional Executive Director WALHI, 2004-2012 sebagai Koordinator Komisi Konsultasi dan Kerjasama Manajemen Bencana di Yayasan Society for Health Education, Environment and Peace (SHEEP), 2012-2015 sebagai konsultan di Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD), 2015-2019 sebagai Direktur pada Direktorat Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim di Yayasan Penabulu, serta 2019 sampai sekarang dipercaya sebagai Chief Grant Management di Yayasan Penabulu.

Beberapa pengalaman penting Adi Nugroho dalam beberapa tahun terakhir sebagai Chief Grant Management on Service Provider dalam program Small Grant Program in Indonesia bersama ASEAN Heritage Park, ASEAN Center for Biodiversity (ACB), dan Germany Development Bank (KfW). Adi juga terlibat dalam peningkatan kapasitas kelembagaan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan menciptakan jaringan PRB melalui platform multi pemangku kepentingan bersama Asia Pacific Alliance for Disaster Management (APAD) dan Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana. Sebagai evaluator, Adi pernah mengevaluasi Program Tanggung Jawab Sosial PT Newmont Nusa Tenggara pada 2015-2016. Tidak hanya di bidang lingkungan hidup, Adi Nugroho pernah didapuk sebagai Spesialis Rencana Mitigasi dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Delivering Expanded Resource for AIDS Programming (DERAP) pada tahun 2015.

Kelompok rentan pada sebuah kelompok menjadi keunikan khusus dalam memastikan pengelolaan sumber daya alam dan manusia.

Akhmad Arief Fahmi

Akhmad Arief Fahmi, akrab disapa Arief, mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Arief tertarik pada banyak hal seperti sejarah, politik ekonomi, lingkungan hidup, filsafat, agama, walau tidak pernah mendalami salah satu diantaranya. Ia juga gandrung pada transformasi sosial dan narasi besar tentang hal-hal tersebut, tetapi selalu ingin membuktikan dan bergerak pada tingkatan yang dapat dijangkau oleh aksi nyata.

Arief adalah salah satu yang menginisiasi terbentuknya Lembaga Kajian, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM) Relung pada tahun 2000-an. Di sana, Arief menjadi Direktur untuk periode 2004-2017 dan masih setia mengabdi hingga saat ini. Ia pernah menjadi wartawan Bulletin AKAR yang diterbitkan Yayasan Arupa di tahun 1999-2001. Pasca bencana alam gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006, Arief menjadi Tenaga Ahli Kehutanan FAO Indonesia. Dan sejak 2018 hingga kini Arief merupakan salah satu anggota Dewan Pengawas Yayasan SWARAOWA dan Yayasan Kutilang Indonesia.

Arief memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti di Pusat Studi dan Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR) UGM pada tahun 2006-2017, di Small-Medium Enterprises Development Center UGM pada 2009-2014, dan pada rentang 2015-2017 di  Pusat Kajian Pembangunan Peternakan UGM. Lebih dari 20 tahun bergelut dalam advokasi lingkungan hidup, ada banyak karya yang dihasilkan Akhmad Arief Fahmi.

Tahun 2003-2005 bertanggung jawab pada peningkatan kapasitas agroforestry Petani Hutan Rakyat di Pegunungan Menoreh bersama LKPPM Relung; tahun 2004-2014 terlibat dalam program Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Jateng dan DI Yogyakarta dalam kerjasama LKPPM Relung dengan Toyota Eco-grant, dimana skema kerjasama tersebut diteruskan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DI Yogyakarta, hasilnya terjadi perubahan tutupan lahan pesisir Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, serta berkembangnya obyek wisata alam di sepanjang pesisir; turut menginisiasi pengembangan biogas pada peternak sapi perah di komplek Merapi-Merbabu bersama Yayasan Infront tahun 2008-2010; mendampingi pelaku wisata di 6 (enam) desa di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan tahun 2019-sekarang. Sebagai peneliti di beberapa Pusat Studi menghasilkan berbagai dokumen yang cukup banyak di bidang perencanaan pembangunan regional maupun pembangunan sektoral.

Arief berharap memiliki model komunitas, khususnya yang terkoneksi dengan pengelolaan kawasan hutan yang dapat menjadi model Pembangunan Berkelanjutan, baik secara ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan hidup.

Yudistira Soeherman

Yudistira Soeherman sudah 7 tahun berkecimpung di dunia kajian dan riset. Memiliki atar belakang akademis Sosial Ekonomi Peternakan dan Ekonomi Pembangunan, yang membawanya fokus pada isu pembangunan regional, terutama pembangunan ekonomi yang secara inklusif bersinggungan dengan aspek lingkungan, pertanian, kehutanan, dan pangan dalam mencapai Sustainable Development Goal’s. Yudis memiliki karakter open mind dan selalu tertantang untuk belajar hal baru, membuat dia memperkaya kompetensinya ke ranah ekonomi digital.

Yudis yang menekuni hobi melakukan riset memperoleh ruang ketika mendapat kesempatan bergabung di Pusat Kajian Pembangunan Peternakan pada tahun 2015. Di sana ia mendalami berbagai metode riset, menyusun perencanaan dan implementasi pembangunan ekonomi secara makro, meliputi pembangunan regional yang berfokus pada pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pada tahun 2018 bergabung dengan Yayasan Penabulu, yang kemudian menguatkan diri pada kompetensi pembangunan ekonomi secara mikro meliputi rantai pasok komoditas, mata pencaharian masyarakat dan bisnis komunitas.

Mulai tahun 2019 hingga kini, Yudis menjadi bagian penting Perkumpulan Desa Lestari sebagai Spesialis Riset, Data, dan Informasi Desa. Bersama Perkumpulan Desa Lestari, ia terus mendalami isu pembangunan ekonomi regional berbasis desa. Mengacu amanat UU Desa, Yudis bersama Perkumpulan Desa Lestari mendorong kemandirian desa tidak hanya pada aspek tata kelola pemerintahannya saja, melainkan juga mempersiapkan desa untuk segera mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan desa dalam pemenuhan kebutuhannya di masa depan. Upaya ini dapat terwujud melalui optimalisasi potensi sumber daya desa guna kesejahteraan masyarakat.

Bersama tiga lembaga yang pernah menaunginya, Yudis menyusun banyak riset dan kajian tentang pembangunan ekonomi berbasis pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, baik telah masuk dalam publikasi internasional, nasional maupun sebagai dokumen acuan kebijakan maupun implementasi program. Beberapa diantaranya adalah menyusun Masterplan Sembilang Dangku dengan Lanskap dan Manajemen Kemitraan pada tahun 2018 dalam skema proyek KELOLA SENDANG bersama ZSL Indonesia; menjadi anggota penyusun “Investment Opportunities of The Private Sector on The Sustainable Food System in Indonesia” bersama IBCSD pada 2019; melakukan asesmen dan memfasilitasi peningkatan kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus pada tahun 2019 – 2021 dalam kerjasama Perkumpulan Desa Lestari dan Djarum Foundation; melakukan evaluasi program kerjasama antara Yayasan IDRAP dengan BfDW pada 2019; mendesain platform Data Komoditas Terpadu (DAKOTA) pada proyek Civic Engagement Alliance tahun 2019-2020; di tahun 2021 menjadi asesor dalam Pemetaan Potensi Mata Pencaharian Alternatif Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bersama Yayasan ASRI; mengembangkan aplikasi Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID) dalam skema proyek RESBOUND di tahun 2021; menyusun “Baseline Research Adaptasi Perubahan Iklim” dalam kerja bersama Koalisi ADAPTASI pada tahun 2022; bersama Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, pada tahun 2022, menyusun “Pedoman Sistem Pemanenan Kayu Manis Ramah Lingkungan di Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Kerinci”.

Pada kesempatan yang lain, Yudis cukup sering memberikan kuliah umum tentang Pembangunan Ekonomi Regional di Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Keterlibatan di dunia akademis, menjadikannya mendapatkan kesempatan untuk melakukan diskusi intelektual dengan dosen dan mahasiswa.

Melalui kiprah dan pengalamannya, kapasitas Yudis tentang pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam bertambah serta berkembang. Kemampuan fasilitasi, analisis, lobi, advokasi, riset, dan kolaborasi pun semakin kuat. Baginya,pembangunan ekonomi di Indonesia tidak akan lepas pada aspek pengelolaan sumber daya alam. Maka dalam strategi pembangunan harus sangat memperhatikan banyak aspek secara inklusif dan bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan kehidupan di masa akan datang.

Astarina Eka Dewi

Asta, demikian biasa disapa, menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Sempat mengenyam pendidikan S3 di Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, namun tak terselesaikan. Dalam bekerja, Asta selalu berusaha memberikan yang terbaik dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang terpinggirkan. Saat menghadapi permasalahan ia selalu berusaha memahami dari berbagai sisi dan memfokuskan pada cara penyelesaian yang meminimalkan potensi konflik antar pihak.

Pada awal tahun 2000, Asta mendirikan Lembaga Kajian, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM) Relung dan bekerja di organisasi ini hingga 2006.Jabatan terakhirnya adalah Koordinator Divisi Pemberdayaan Masyarakat. Pada tahun 2013- 2017 Asta bergabung dengan Indonesian Center for Sustainable Development (ICSD) sebagai Peneliti. Pada 2016, Asta menjadi Tenaga Ahli ESMS dalam proyek Green Energy di Yayasan Penabulu. Kemudian berlanjut pada 2017 ditunjuk sebagai Koordinator Tim dalam proyek kerjasama Yayasan Penabulu dengan ZSL Indonesia, hingga tahun 2019. Berkat kerja cemerlangnya, ZSL Indonesia memintanya bergabung di akhir masa proyek (2019-2020). Bersamaan dengan itu, Asta juga ditunjuk menjadi Ketua Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia (Relung Indonesia).

Dalam periode 2003-2005, melalui LKPPM Relung, Asta menjadi Koordinator Program Kerjasama dengan Kedutaan Finlandia di Indonesia untuk melakukan penguatan kapasitas petani di kawasan agroforestry Pegunungan Menoreh meliputi peningkatan kapasitas kelembagaan, teknik budidaya dengan sistem agroforestry, dan pengolahan pasca panen. Pada tahun 2013-2017, bersama ICSD Asta berperan sebagai Koordinator Social Mapping, Stakeholder Engagement, Perencanaan dan Monev CSR, Penyusunan Dokumen Proper, dan lain-lain yang bekerjasama dengan perusahan yang fokus pada pengelolaan SDA.

Bersama Yayasan Penabulu, Asta menjadi Tenaga Ahli ESMS dalam proyek Green Energy pada tahun 2016, Koordinator Tim Penabulu di Sumatera Selatan pada 2017-2019. Dan diberi mandat oleh ZSL Indonesia sebagai Governance and Institution Manger dalam proyek Kelola Sendang pada 2019-2020.

Kecintaannya pada lingkungan, menjadikan Asta memiliki perhatian khusus pada isu-isu kehutanan dan lingkungan hidup, terutama yang berpeluang mewujudkan keharmonisan antara manusia dan alam. Mimpinya adalah mewujudkan pengelolaan sumberdaya hutan yang lestari untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Masih berkutat dengan isu kehutanan, Asta juga tertarik pada pemasaran komoditi/produk hasil hutan non kayu yang berkeadilan bagi masyarakat desa hutan.

Nurul Purnamasari

Nurul Purnamasari sudah lebih dari 15 tahun berkiprah di Organisasi Masyarakat Sipil. Berlatar belakang akademis Jurnalisme dan Komunikasi Pembangunan, ia terbiasa dengan hal-hal jurnalistik dan publikasi, didukung dengan hobi membaca dan menulis menjadikannya semakin fokus pada pengelolaan pengetahuan. Baginya, pengetahuan dan pengalaman organisasi hal yang sangat penting dalam mengukur perkembangan organisasi.

Menjalani “karir” di OMS dijalani sejak 2005 di Yayasan SATUNAMA, berpindah ke Combine Resource Institute pada 2013, dan bergabung dengan Yayasan Penabulu di tahun 2014 memberikan pelajaran tentang ragam model kepemimpinan dan tata kelola organisasi non-profit. Dari tiga organisasi tersebut, pengalaman dan kapasitasnya berkembang. Kemampuan fasilitasi, analisis sosial, lobi dan advokasi, riset, dan leadership semakin kuat.

Sejak 2018, Nurul mendapat mandat sebagai Ketua/Penanggungjawab Perkumpulan Desa Lestari, sebuah OMS yang berkecimpung dalam isu pembangunan dan pemberdayaan desa. Sejalan dengan amanat UU Desa, Perkumpulan Desa Lestari memiliki misi untuk mewujudkan desa yang lestari di bidang pendidikan masyarakat, kearifan lokal, lingkungan, ekonomi, dan modal sosialnya. Tantangannya adalah mengubah pola pikir “nrimo” dan kebiasaan masyarakat desa pada umumnya, menjadi kemauan untuk bergerak membangun desa.

Dalam perkembangan OMS terkini, jumlah donor yang berkurang menjadikan OMS harus berlomba menghasilkan inovasi layanan. Upaya Perkumpulan Desa Lestari mendapat respon baik. Program kewirausahaan sosial yang semula dikembangkan sebagai produk layanan, mulai dilirik oleh beberapa perusahaan. Sejak 2018 hingga kini PT ASTRA International, PT Djarum, dan Medco E&P Natuna Ltd. menjadi mitra pengembangan program dengan skema corporate social responsibility (CSR). Nurul berharap, kolaborasi pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perdesaan bersama perusahaan menjadi sebuah model baru yang juga dapat diduplikasi oleh OMS lain. Dalam bidang kemitraan lain tahun 2015 Nurul menyusun baseline survey “BUMDes: Kewirausahaan Sosial yang Berkelanjutan” yang didukung Saemaul Globalization Foundation; memfasilitasi pendirian radio komunitas bersama Yayasan IDRAP pada tahun 2016; tahun 2018 menginisiasi “Youth Leadership Programme” bersama JUMP! Foundation di Yogyakarta; pada 2019 menjadi anggota penyusun “Investment Opportunities of The Private Sector on The Sustainable Food System in Indonesia” bersama IBCSD;  tahun 2021 menjadi anggota penyusun “Dokumen Perencanaan Strategis 2022-2024” untuk CWI; mengembangkan konsep dan modul “Desa Cerdas” bersama Kementerian Desa PDTT sejak 2020 hingga sekarang;  menyusun “Baseline Research Adaptasi Perubahan Iklim” bersama Yayasan Penabulu pada 2022;  dan beberapa proyek lain.

Tak hanya aktif di dunia aktivisme, Nurul pun mendedikasikan diri dalam kegiatan akademis di beberapa perguruan tinggi. Tahun 2014-2018 Nurul menjadi dosen tidak tetap di Departemen Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta. Di tahun 2022 ia dipercaya oleh Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto menjadi dosen tamu untuk menyajikan kuliah tentang pemberdayaan masyarakat.